METRO ONLINE Tolitoli -- Sebagai bentuk nyata pemenuhan hak pendidikan sekaligus sarana pembinaan intelektual, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli menggelar kegiatan pemberantasan buta huruf aksara dan pembelajaran membaca Bahasa Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di Perpustakaan Lapas mulai pukul 09.00 WITA dan diikuti oleh sejumlah warga binaan yang belum mengenal huruf dan belum lancar membaca.
Lebih dari sekadar kegiatan belajar membaca, program ini menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan kemampuan dasar literasi, warga binaan dapat memahami aturan, menulis surat, membaca informasi penting, bahkan menyampaikan aspirasi secara tertulis. Ini adalah langkah awal yang signifikan dalam memutus rantai kebodohan dan membangun kepercayaan diri.
Kalapas Kelas IIB Tolitoli, Muhammad Ishak, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu upaya Lapas untuk memastikan setiap warga binaan mendapatkan kesempatan yang sama dalam meningkatkan kapasitas intelektualnya. "Kami ingin memastikan bahwa mereka yang menjalani masa pidana di sini tetap memiliki akses untuk belajar, tumbuh, dan berdaya. Harapannya, setelah bebas nanti mereka tidak merasa terpinggirkan dalam masyarakat," ujar Kalapas.
Syafruddin Basirun, Kasubsi Registrasi & Bimbingan Kemasyarakatan sekaligus pejabat pembina kegiatan, menegaskan pentingnya program ini dalam mendukung proses pembinaan warga binaan. "Kami percaya bahwa pendidikan adalah kunci perubahan. Ketika warga binaan bisa membaca dan menulis, mereka akan lebih mudah menerima pembinaan lainnya, seperti kerohanian, keterampilan, dan penguatan mental spiritual. Ini bukan sekadar belajar huruf, tapi belajar untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri," ungkapnya.
Salah seorang warga binaan peserta kegiatan, Zakaria (bukan nama sebenarnya), mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini. "Saya dulu tidak bisa baca sama sekali. Sekarang saya sudah bisa baca tulisan-tulisan sederhana dan mulai paham isi bacaan. Rasanya seperti diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki hidup," ujarnya penuh semangat.
Kegiatan ini juga menjadi bukti kepedulian sosial dari jajaran Lapas Tolitoli terhadap masa depan warganya. Melalui pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan, warga binaan diberikan bekal yang penting agar kelak setelah bebas bisa berdaya di tengah masyarakat dan tidak kembali ke jalur yang salah.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Sapta Arahan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan, dalam mendukung 13 Program Akselerasi dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto. yang merupakan bagian dari langkah strategis untuk mensukseskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Editor: Muh Sain

