METRO ONLINE Sengkang, 05 Januari 2026- Suasana kelas pembelajaran di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sengkang tampak berbeda dari biasanya. Kolaborasi Pembina Kepribadian, Riny Mulyasari Sultan, bersama peserta magang berhasil menghadirkan proses belajar yang lebih hidup, interaktif, dan penuh semangat, sehingga menarik minat warga binaan untuk kembali antusias menimba ilmu.
Pembelajaran tidak lagi berlangsung satu arah. Materi disampaikan dengan metode yang variatif, dipadukan dengan ice breaking, diskusi santai, serta pemberian apresiasi kepada warga binaan yang aktif dan paling cepat datang untuk belajar.
Suasana kelas pun terasa lebih cair dan menyenangkan, mendorong warga binaan untuk berani bertanya, berpendapat, dan terlibat langsung dalam proses belajar.
Riny Mulyasari Sultan menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran yang humanis menjadi kunci dalam membangun minat belajar warga binaan. Menurutnya, ketika warga binaan merasa dihargai dan nyaman, proses pembinaan akan berjalan lebih efektif dan bermakna.
“Pendidikan bukan sekadar mengejar kelulusan, tetapi bagaimana membangun kepercayaan diri dan pola pikir positif warga binaan agar siap kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Sebagai informasi, Rutan Sengkang secara konsisten menjalankan program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang mencakup pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, serta program pemberantasan buta aksara.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemenuhan hak pendidikan warga binaan yang sebelumnya terhenti, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk memperbaiki kualitas diri.
Melalui program pendidikan tersebut, warga binaan tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat untuk berubah.
Diharapkan, bekal ini dapat dimanfaatkan setelah mereka bebas nanti, sekaligus menjadi langkah nyata dalam memutus mata rantai pidana berulang.
Dengan sinergi antara Pembina Kepribadian, peserta magang, dan seluruh jajaran Rutan Sengkang, pembinaan pendidikan terus diarahkan agar lebih adaptif, inklusif, dan berdampak nyata.
Editor: Muh Sain
